MIX.co.id – Laporan terbaru Dale Carnegie – State of Organizational Health 2025 mengungkapkan, di tengah akselerasi adopsi kecerdasan buatan (AI), banyak organisasi menghadapi tantangan yang lebih mendasar dibandingkan teknologi itu sendiri. Antara lain, kesenjangan persepsi antara pimpinan dan contributor individual (staf). Studi tersebut menyebutkan, 54,2% responden di jenjang pimpinan puncak menyatakan bahwa integrasi teknologi dan AI di Perusahaan mereka itu efektif atau transformative, sedangkan di jenjang staf, hanya 11,2% responden yang menjawab hal yang sama. “Hal ini menunjukkan bahwa integrasi AI tidak dikomunikasikan dengan baik hingga ke level bawah, yang akan paling terdampak dengan kehadiran AI,” President & CEO Dale Carnegie Global Joe Hart, pada hari ini (2/2), di Jakarta.
Laporan ini juga mengungkapkan bahwa percepatan adopsi teknologi dan AI belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan kepemimpinan manusia. Secara global, 42% responden melaporkan budaya komunikasi yang kuat atau sangat efektif, sementara 46% masih berada pada kategori developing. Di saat yang sama, hanya 17% responden yang dinilai memiliki budaya empati yang mendalam (deeply empathetic), dan tingkat psychological safety yang memberdayakan dirasakan oleh 15% responden. Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan transformasi AI sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin dalam membangun kejelasan, kepercayaan, dan keterlibatan manusia di seluruh lapisan organisasi.
“Di tengah percepatan teknologi, kepemimpinan dituntut untuk hadir dengan kejelasan dan ketenangan. AI dapat meningkatkan efisiensi, tetapi manusialah yang menentukan bagaimana keputusan diambil, kepercayaan dibangun, dan organisasi bergerak maju. Ketika pemimpin mampu memimpin manusia dengan sadar, teknologi akan benar-benar memberi dampak,” papar Joe Hart.
Di kawasan Asia Pacific (APAC), laporan Dale Carnegie mencatat paradoks yang semakin nyata. Hanya 18% responden di APAC yang melaporkan budaya komunikasi yang sangat efektif, sedangkan 49% responden menilai empati di tempat kerja masih berada pada tahap emerging. Selain itu, hanya 10% responden di Asia-Pasifik yang merasa benar-benar memiliki psychological safety yang memberdayakan. Dampaknya terlihat pada tingkat keterlibatan karyawan, di mana hanya 20% responden di APAC yang tergolong deeply engaged dalam pekerjaannya.
“Temuan ini menegaskan bahwa percepatan teknologi tanpa kepemimpinan yang kuat berisiko menciptakan kelelahan organisasi, menurunnya engagement, dan berkurangnya kepercayaan dalam jangka panjang,” ia menjelaskan.
Pada kesempatan yang sama, President Director Dale Carnegie Indonesia Paul J. Siregar menilai temuan Asia Pacific sangat relevan dengan kondisi organisasi di Indonesia. “Kami melihat bahwa adopsi teknologi dan AI di Indonesia berlangsung sangat cepat. Namun, tantangan kepemimpinan justru muncul pada aspek komunikasi, empati, dan rasa aman psikologis di dalam tim. Temuan Dale Carnegie di Asia Pacific memperkuat keyakinan kami bahwa transformasi hanya akan berdampak ketika pemimpin mampu memimpin manusia secara sadar, konsisten, dan membumi,” ucapnya.
Menjawab tantangan tersebut, Dale Carnegie memperkenalkan kerangka Take Command sebagai panduan kepemimpinan yang relevan di era AI. Dipaparkan Joe Hart, kerangka ini dibangun di atas tiga pilar utama. Pertama, Mindset, yan membantu pemimpin bertindak dengan kejelasan, ketenangan, dan kepercayaan diri dalam menghadapi perubahan cepat. Kedua, Relationships, yang membangun kepercayaan, menjembatani kesenjangan lintas generasi, serta memperkuat kolaborasi di lingkungan kerja yang semakin kompleks. Ketiga, Future, yakni merancang strategi jangka panjang yang menyatukan kekuatan manusia dan teknologi secara intentional untuk pertumbuhan berkelanjutan.
“Kerangka ini menegaskan bahwa kepemimpinan di era AI bukan tentang menguasai teknologi, melainkan tentang mengambil kendali atas arah, budaya, dan perilaku organisasi,” tandasnya.
Selama 50 tahun hadir di Indonesia, Dale Carnegie telah memberdayakan lebih dari 300.000 pemimpin lintas industri. Perjalanan ini menegaskan bahwa perubahan perilaku manusia tetap menjadi fondasi kepemimpinan yang relevan, bahkan di tengah percepatan AI.
“Take Command kami hadirkan sebagai bagian dari perayaan 50 tahun Dale Carnegie Indonesia. Bagi kami, ini bukan sekadar menandai perjalanan panjang, tetapi momentum untuk menegaskan kembali esensi kepemimpinan—keberanian memimpin manusia di tengah perubahan. Inilah kepemimpinan yang terus kami persiapkan bersama para pemimpin Indonesia,” tutup Paul.

