Saat Cinta pada Pekerjaan Mulai Sirna

October 27, 2014 9:58 am | Oleh Dale Carnegie Training Bandung
Dale Carnegie > Referensi > Artikel > Blog > Saat Cinta pada Pekerjaan Mulai Sirna

Ibu Wida,

2Menurut teman-teman, saya beruntung bisa bekerja di tempat yang saya sukai, pilihan saya sendiri. Sekalipun kuliah di jurusan teknik, saya berminat ke dunia entertainment. Saat ini saya menjabat sebagai produser acara di salah satu media massa yang ternama di Jawa Barat.  3 tahun lalu saya memulai pekerjaan ini dengan penuh passion – rasa cinta pada pekerjaan yang memberikan energi luar biasa, kerinduan untuk melahirkan kreasi baru, serta totalitas untuk selalu memperbaiki kualitas kerja.  Bisa dibilang saya bekerja tidak hitung-hitungan, demi yang terbaik di tempat kerja.

Namun ibarat rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan, setahun belakangan ini saya mulai sering menelan kekecewaan. Rencana kerja yang tersusun matang bisa berantakan gara-gara atasan saya punya prioritas lain, rekan kerja banyak yang bekerja ala kadarnya dan tidak berusaha mengimbangi ide-ide baru kami. Belum lagi kalau membandingkan dengan teman-teman yang bekerja di bidang lain, saya merasa gaji serta pengakuan terhadap kinerja saya sangat minim.

Hal-hal yang dulunya saya syukuri dan membuat teman-teman saya iri, misalnya : waktu kerja yang sangat fleksibel, bisa bertemu dengan selebritis atau tokoh masyarakat, berbagai kegiatan on air dan off air, serta kesempatan meng-update pengetahuan, sekarang ini malah membuat saya lelah, gelisah, dan merasa diri gagal. Apa saya sebaiknya berhenti kerja saya, ya bu? Apakah pekerjaan yang ini memang bukan jodoh saya?

B

Ytk. B yang sedang risau,

Tidak banyak orang yang menemukan passion dalam pekerjaannya, selamat karena di usia muda B mampu mengenali kerinduan terdalam untuk bekerja di bidang yang disukai! Apakah memang bidang kerja ini bukan jodoh B atau memang siklus alamiah dalam bekerja? Mari kita nilai diri menurut 4 fase pekerjaan di bawah ini :

  1. Masa Bulan Madu
    Masa awal di kantor biasanya terasa indah layaknya pasangan yang sedang berbulan madu. Sebelum berangkat kerja kita berdandan dengan cermat, memilih baju dan asesoris, menyikat sepatu, menyiapkan bekal untuk makan siang. Di tempat kerja kita hadir penuh semangat, optimis, dan merasa segala hal itu sempurna.
    Di satu sisi perasaan bergelora ini akan membuat hidup kita penuh arti, namun jika kita terlalu fokus hanya untuk bekerja kita bisa jatuh pada rasa kecewa dan bertepuk sebelah tangan. Sekalipun sedang berbulan madu, kita perlu menjaga profesionalitas kita dengan cara memperjelas batasan tugas kita : agar tidak terlalu santai di tempat kerja, namun juga menghindari semua tugas dibebankan pada kita. Kita pun sebaiknya tetap menjaga keseimbangan hidup dengan cara menyediakan waktu untuk kegiatan personal di luar tempat kerja, tetap menjalin relasi dengan keluarga dan teman-teman lama kita.
  1. Masa Penyadaran
    Masa ini dimulai saat kita menyadari bahwa berbagai ekspektasi awal kita tidak terpenuhi. Suasana kerja,besaran insentif dan jenis-jenis penghargaan, hambatan / penolakan atas ide dan niat baik kita, membuat kita merasa kecewa dan patah hati. Pada beberapa orang kondisi ini tercermin dari perubahan penampilannya, baju kerja serampangan dan kurang rapi, wajah lusuh dan tidak berdandan lagi, mulai sering memakai sandal yang santai, kita terlihat tidak serapi saat pertama bekerja.
    Sebenarnya kondisi ini menggambarkan bahwa kita sudah makin memahami situasi pekerjaan secara realistis. Disadari atau tidak, kita mulai terampil dan bisa diandalkan untuk menangani tugas, meskipun hasilnya belum sesuai dengan harapan kita. Yang dibutuhkan disini adalah kesabaran dan optimisme untuk terus bekerja baik serta meraih prestasi.
  1. Masa Putus Asa
    Jika kita mengabaikan suara hati yang penuh kemarahan dan kekecewaan, kita akan menjadi manusia yang apatis, putus asa dan pesimis dengan tempat kerja kita. Di tempat kerja kita mulai menarik diri, tidak menuntaskan tugas, kurang teliti. Sementara kepuasan batin kita dapatkan dari luar pekerjaan: dugem, belanja-belanja, makan berlebihan atau mengerjakan hobby kita. Bahaya pada masa ini adalah penilaian buruk dari tempat kerja sehingga karir kita tidak berkembang, dan kita makin kecewa.
    Hal yang dapat kita lakukan di masa putus asa :  jaga kesegaran fisik dan mental kita, misalnya : melakukan olah raga teratur, peregangan, relaksasi, meditasi, memperbanyak berdoa, jaga pola makan sehat, tidur cukup, serta memanfaatkan jatah cuti kerja kita. Bisa juga dengan membatasi kegiatan kita agar tidak terlalu lelah, serta sekali-sekali mematikan perangkat digital kita.
  1. Masa Kebangkitan
    Jika kita setia memelihara kesegaran fisik dan mental, serta tetap terbuka terhadap berbagai perubahan dan kesempatan, maka kita akan tiba pada kebangkitan baru dalam bekerja. Kita mulai memiliki semangat dan kegembiraan, disertai kematangan untuk bekerja dengan bijaksana. Disini kita akan mampu menyampaikan ide dan aspirasi kepada atasan atau bawahan kita, siap menempati posisi baru dalam bekerja (pindah bagian atau pindah lokasi kerja), menjadi narasumber yang tepercaya di tempat kerja. Saat ini keberadaan kita akan makin dihargai dan diperhitungkan, baik di tempat kerja maupun di masyarakat umum.

B yang terkasih, dari gambaran di atas bisa disimpulkan bahwa perasaan yang B alami merupakan tahapan yang wajar saat kita bekerja. Saat ini B sudah menjadi tenaga kerja yang kompeten dan matang, yang memahami dunia kerja beserta dinamikanya. Semoga nilai tambah yang telah B kembangkan ini dapat dimanfaatkan dengan lahirnya kreasi dan terobosan baru  dalam berkarya.

Salam semangat,

Wida

Lidwina Wahyu Widayati,

Senior Trainer Dale Carnegie Training Bandung
Tagged Dale Carnegie Training Bandung

Jakarta & Head Office

Jl. Paus No. 84 A
Jakarta Timur 13220
Phone: 021-489 2737
Fax: 021-489 6926


Send this to a friend

Isi form dibawah ini sebelum mengunduh
Mohon lengkapi form dibawah ini untuk mengunduh atau membaca material dari Dale Carnegie - GRATIS!
NAMA
PERUSAHAAN
KOTA
TELEPON
E-MAIL
Informasi anda tidak akan diberikan kepada pihak lain.
More in Blog
Success is Never Final

Malam ini tim Dale Carnegie Training Indonesia mengadakan rapat tahunan nasional. Seperti biasa, salah satu yang dibahas adalah pencapaian target...

Close